RASIKAFM.COM | UNGARAN – Rumah keluarga Muhroji (73) dan Munarti (65), warga Dusun Pledokan (sebelumnya ditulis Rejowinangun), Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, akhirnya menikmati aliran listrik setelah sekitar 20 tahun hidup tanpa penerangan listrik. Penyambungan listrik dilakukan pada Kamis (23/7/2026), hanya sehari setelah kisah keluarga tersebut menjadi perhatian publik.
Kini rumah sederhana yang selama puluhan tahun hanya mengandalkan lampu sentir berbahan bakar minyak goreng itu telah diterangi dua lampu listrik. Anak pasangan tersebut, Muhammad Tejo Pramono, mengaku tak menyangka rumahnya akhirnya memiliki listrik.
“Perasaannya senang, enggak nyangka, kayak mimpi sudah dipasang listrik,” ujarnya ditemui di rumahnya, Jumat (24/7/2026).
Siswa kelas III SMP itu mengaku sejak duduk di bangku SD hingga kini selalu belajar menggunakan lampu sentir. Kondisi itu membuatnya kesulitan membaca karena cahaya yang redup.
“Dulu belajarnya pakai sentir. Susah, kalau membaca gelap, kurang terang. Bukunya juga sering kena noda minyak goreng,” katanya.
Selama belum memiliki listrik, Tejo juga harus menumpang mengisi daya telepon genggam di rumah tetangga. Ia mengaku teman-temannya di sekolah mengetahui kondisi rumahnya, bahkan setelah kisah keluarganya viral.
“Iya, teman-teman tahu. Tadi bilang saya viral,” ucapnya.
Ibunya, Munarti, juga mengaku bahagia karena rumahnya kini akhirnya terang.
“Rasanya senang sekali sudah dipasang listriknya. Saya kira masih besok-besok, ternyata kemarin langsung dipasang. Semalam rumah sudah terang,” ungkapnya.
Menurut Munarti, keberadaan listrik sangat membantu kebutuhan anaknya untuk belajar dan mengisi daya telepon genggam. Meski demikian, untuk memasak sehari-hari keluarga itu masih menggunakan kayu bakar.
“Lampunya ada dua. Listriknya buat belajar anak saya, ngecas HP. Kalau masak nasi masih pakai kayu bakar. Kemarin masangnya gratis. Terima kasih kepada Pak Bupati Semarang, Pak Camat Sumowono, Pak Kades Pledokan yang sudah membantu,” paparnya.
Sementara Kepala Desa Pledokan, Alimin, mengatakan pemasangan listrik dilakukan setelah adanya instruksi Bupati Semarang melalui Camat Sumowono. Pemerintah desa bersama camat langsung mengecek lokasi dan berkoordinasi dengan PLN hingga penyambungan dapat segera direalisasikan.
“Alhamdulillah sekarang sudah terpasang. Pemasangannya gratis dan menggunakan listrik prabayar 450 VA,” katanya.
Alimin mengungkapkan, pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mengajukan pemasangan listrik sejak 2021. Namun saat itu terkendala faktor teknis karena jarak dari sambungan terakhir ke rumah Muhroji mencapai sekitar 560 meter dan hanya melayani satu rumah.
“Memang waktu itu secara teknis cukup sulit. Sekarang PLN sudah memasang trafo sehingga akhirnya bisa direalisasikan. Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN yang telah cepat merespons,” ujarnya.
Bahkan, untuk meringankan beban keluarga Muhroji, Alimin menyatakan akan menanggung pembelian token listrik secara pribadi selama dirinya masih menjabat sebagai kepala desa.
“Insyaallah selama saya masih diberi kepercayaan memimpin Desa Pledokan, saya pribadi yang menanggung token listriknya,” katanya.
Selain itu, Alimin menegaskan keluarga Muhroji selama ini juga rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa maupun pemerintah pusat, seperti Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) dan bantuan pangan.
“Bahkan kemarin pertengahan Juni 2026 kami telah menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak. Memang hak-hak warga yang membutuhkan sudah kami berikan. Bantuan rutin sudah diterima setiap tahun sesuai ketentuan yang berlaku,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, keluarga Muhroji menjadi sorotan karena selama sekitar dua dekade tinggal tanpa aliran listrik meski rumahnya berada tidak jauh dari jalan desa. Selama itu mereka mengandalkan lampu sentir untuk penerangan dan harus menumpang ke rumah tetangga untuk mengisi daya telepon genggam. Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Semarang hingga listrik berhasil tersambung ke rumah mereka. (win)









