RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

KABAR RASIKA

Peringati HUT ke 17, Himpaudi Salatiga Harapkan Kesetaraan

Peringati HUT ke 17, Himpaudi Salatiga Harapkan Kesetaraan

Peringati HUT ke 17, Himpaudi Salatiga Harapkan Kesetaraan

Memperingati hari ulang tahun ke 17 Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Salatiga meminta adanya kesetaraan. Yaitu kesetaraan dengan pendidikan formal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua HIMPAUDI Kota Salatiga Siti Sundari. Sebab sampai saat ini pendidikan PAUD masih dianggap pendidikan non formal. Akibatnya pendidik di PAUD tidak disebut guru. Berimbas pada hak-hak yang tidak bisa didapatkan oleh guru PAUD.

“Pendidik yang disebut guru adalah pendidik yang mengajar formal. Sedangkan kami tidak di sekolah formal. Sehingga kami tidak dianggap sebagai guru. Ini berimplikasi undang-undang guru dan dosen hak-yang menyatakan hak-hak guru yang disana. Diantaranya sertifikasi dan hal-hal lain,” jelasnya Sundari.

Diharapakan dengan kegiatan ulang tahun ini bisa membuka mata masyarakat bahwa guru PAUD setara dengan pendidikan formal di Salatiga khususnya dan umumnya di Indonesia. Selain itu, mewakili rekan sejawat Sundari ingin adanya revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Utamanya tidak ada pengkategorian guru formal dan non formal. Sekedar informasi saat ini guru PAUD non formal di Salatiga ada 435 orang dari 123 lembaga pendidikan.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Sekolah KB Margi Rahayu, Sidomukti Abetnigo Sarwo Edy, ia berharap ada kesetaraan dan penghargaan yang sama dengan guru formal. Sebab dirinya sudah bersusah payah mendidik anak-anak, namun tidak ada kesetaraan.

“Kasian dari yayasan tidak ada gaji. Jadi setiap bulan mengajar tanpa gaji. Hanya menggunakan dana bos yang cukup untuk peralatan,” ungkap satu-satunya pria yang mengajar di PAUD di Kecamatan Sidomukti.

Selain soal gaji yang diinginkan Albetnigo, PAUD juga harus dimasukan sebagai pendidikan formal. Sebab semua hal mengikuti aturan dari dinas. Mulai kurikulum sampai jam masuk sekolah. Momentum 17 tahun ini ia berharap ada perbaikan nasib sebagai guru PAUD.

Abetnego mengaku sudah 10 tahun menjadi guru PAUD. Menjadi guru PAUD, sebagai laki-laki menjadi pilihan. Ia tidak merasa malu di tengah stigma masyarakat kalau guru PAUD adalah perempuan. Ia ingin mendidik anak-anak, karena memang sudah menjadi tugasnya. Saat ini guru PAUD laki-laki kata Abetnigo sangat sedikit jumlahnya. Padahal tidak semua kegiatan bisa dilakukan oleh perempuan. Ia mengajak laki-laki jika bersedia untuk turut membantu menjadi guru PAUD.

“Justru itulah mari laki-laki yang bersedia membantu melaksanakan kegiatan untuk anak-anak kita dorong. Memang terbatas sekali, di Sidomukti hanya satu,” tandasnya.

BACA JUGA :

Jaksa Masuk Pesantren, Kejari Salatiga Wanti-wanti Santri agar Tidak Terjerat Kasus Hukum
Jaksa Masuk Pesantren, Kejari Salatiga Wanti-wanti Santri agar Tidak Terjerat Kasus Hukum
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga kembali menggelar Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2026 di Balairung UKSW, Kamis (10/9/2026). Mengusung tema “Lentera Harmoni”, kegiatan tahun keempat ini menampilkan inovasi ramah lingkungan dari 15 fakultas. GIHN juga mendorong kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan UMKM agar riset menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
GIHN 2026 UKSW, Ubah Inovasi Ramah Lingkungan Menjadi Dampak Nyata bagi Masyarakat
Kehadiran Padi Pot, akankah jadi Solusi Ketahanan Pangan di Salatiga
Kehadiran Padi Pot, akankah jadi Solusi Ketahanan Pangan di Salatiga?
DPRD Kabupaten Semarang meminta sosialisasi rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran tidak menjadi formalitas agar masyarakat dapat menyatakan menerima atau menolak proyek tersebut. Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menyampaikan hal itu di Ungaran, Kamis (10/9/2026), karena suara warga dinilai penting dalam proses pembangunan dan pengelolaan lingkungan.
DPRD Kabupaten Semarang Ingatkan Sosialisasi Geothermal Jangan Dianggap Persetujuan Warga
Pemkab Semarang tidak akan melakukan riset mandiri terkait rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran karena kewenangan berada di pemerintah pusat sebagai proyek strategis nasional. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyatakan Pemkab berperan sebagai fasilitator dan mendorong konsultasi publik agar kementerian, pemerintah daerah, stakeholder, serta masyarakat mendapat informasi terbuka mengenai potensi dan dampak proyek.
Pemkab Semarang Tegaskan Tak Akan Lakukan Riset Mandiri Geothermal Gunung Ungaran
Sebanyak 31 sapi di Kota Salatiga terkonfirmasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sepanjang Januari hingga 4 September 2026. Dispangtan Salatiga menyebut lalu lintas sapi dari luar daerah menjadi faktor utama penyebaran penyakit. Dari jumlah tersebut, 30 sapi telah sembuh dan satu dipotong paksa, sementara saat ini tidak ada kasus aktif.
31 Sapi di Salatiga Terjangkit PMK, Dinas Pantau Lalu Lintas Ternak

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Keluarga Mozza Axillia Gunarsa (18), remaja asal Bergas, Kabupaten Semarang, meyakini jasad yang ditemukan merupakan putrinya setelah mengenali pakaian, jepit rambut, rambut ikal, dan ciri gigi korban. Senin (7/9/2026), ayah Mozza meminta proses hukum terhadap tersangka berjalan transparan dan pelaku dihukum berat. Hasil pemeriksaan DNA masih ditunggu keluarga.
Ayah Mozza Minta Pelaku Dihukum Berat, Keluarga Menduga Ada Motif Pembunuhan Berencana
Warga Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan terkubur di kebun pada Kamis (3/9/2026) sore. Bayi ditemukan Gendro Susanto saat mencari rumput setelah melihat gundukan tanah baru. Polisi kemudian mengamankan lokasi dan melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi serta pihak yang bertanggung jawab.
Curiga Gundukan Tanah Baru, Warga Bandungan Temukan Bayi Terkubur dan Terbungkus Daster
Lapas Kelas IIB Purwodadi bersama Dinas Pertanian memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui Program Sekolah Tani. Pada tahap ketiga, warga binaan mempelajari budidaya bayam, kangkung, dan pisang Raja Bulu melalui teori serta praktik langsung di lahan Lapas Purwodadi. Program ini dilakukan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan pertanian produktif sebelum kembali ke masyarakat.
Program Integrated Farming, Lapas Purwodadi Gelar Sekolah Tani