RASIKAFM.COM | UNGARAN – Jalan di Perum Delta Asri V RT 3, Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, ambrol setelah diguyur hujan deras berintensitas tinggi pada awal Februari 2026. Kerusakan diduga dipicu pecahnya gorong-gorong drainase sejak 2023 yang menyebabkan tanah terus tergerus hingga akhirnya runtuh.
Akibat runtuhnya tanah tersebut, kini terbentuk saluran air yang menganga sepanjang 20 meter, dengan lebar 3 meter dan kedalaman 4 meter.
Ketua RT 3 Perum Delta Asri V, Yogi Prasetya, menjelaskan awal persoalan bermula dari pecahnya buis gorong-gorong pada 2023. Akibatnya, tanah di sekitar saluran mengalami penurunan dan semakin dalam karena terus digerus aliran air.
“Kejadian awalnya tahun 2023, buis gorong-gorong pecah, akhirnya tanahnya turun dan makin dalam. Air mencari jalan sendiri dan menggerus tanah. Itu sebenarnya bukan jembatan, tapi jalan. Karena bawahnya tergerus, akhirnya runtuh,” ujarnya ditemui di sela kerja bakti pemasangan pancang bambu di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Menurut Yogi, kerusakan jalan mulai terlihat pada 2024. Namun saat itu warga masih bisa melintas meski hanya setapak dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Kondisi memburuk pada awal Februari 2026 setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Desember kemarin masih bisa dilewati walau setapak. Tapi awal Februari, hujan intensitas tinggi, dalam waktu sekitar satu bulan langsung ambrol besar dan bikin kami khawatir,” katanya.
Warga telah melaporkan kondisi tersebut kepada pengembang dan dinas terkait sejak awal kerusakan. Namun karena dianggap belum terlalu parah, penanganan belum dilakukan secara menyeluruh. Setelah ambrol besar terjadi, pihak RT melaporkan ke RW yang kemudian meneruskan surat ke pemerintah desa dan kecamatan.
“Kami khawatir longsoran makin melebar. Dari RT sudah laporan ke RW, lalu bersurat ke desa dan kecamatan. Bahkan ke bupati juga,” tambahnya.
Sebagai langkah darurat, warga memasang pancang bambu di sekitar lokasi untuk mencegah gerusan semakin meluas. Yogi berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan permanen.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang meninjau langsung lokasi, menegaskan penanganan bencana dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah daerah, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat.
“Ini kolaborasi yang sangat kompak di Kabupaten Semarang. Ada Dandim, Kapolres, Bupati, Tagana, TRC, dan seluruh komponen masyarakat bahu-membahu mengatasi masalah. Dengan kolaborasi inilah kita bisa menghadapi cuaca ekstrem,” ujarnya.
Ia menyebut dampak cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Kabupaten Semarang, tetapi juga di sejumlah daerah lain seperti Grobogan dan Pemalang. Karena itu, kesiapsiagaan seluruh elemen menjadi kunci.
Menurutnya, Pemprov Jateng telah berkoordinasi dengan BMKG untuk memitigasi potensi bencana, meliputi empat aspek utama yakni rawan longsor, tanah bergerak, banjir, dan banjir rob. Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda sehingga penanganannya pun disesuaikan.
“Terkait perumahan yang di bawahnya ada gorong-gorong, Pusdataru dan PU sudah melakukan kajian. Saya minta jangan lama-lama, masyarakat sudah menunggu. Kalau sudah tanggap darurat ditetapkan bupati, otomatis seluruh OPD provinsi turun tanpa harus disuruh,” tegasnya.
Pemprov Jateng, lanjutnya, berkomitmen mempercepat penanganan dengan membangun saluran air permanen yang lebih kokoh. Rencananya, saluran baru akan dibangun terlebih dahulu sebelum badan jalan ditutup kembali agar akses warga kembali normal dan aman dilalui. (win)