KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Jelang Ramadan, Ribuan Warga Suruh Gelar Nyadran di Makam Ki Branjang Kawat

Jelang Ramadan, Ribuan Warga Suruh Gelar Nyadran di Makam Ki Branjang Kawat

Jelang Ramadan, Ribuan Warga Suruh Gelar Nyadran di Makam Ki Branjang Kawat

Menjelang bulan Ramadan, warga Desa Plumbon, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menggelar tradisi nyadran, sebuah ritual untuk menghantarkan doa dan membersihkan makam leluhur yang sudah meninggal sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Ribuan warga dari Dusun Wates Sembungan berkumpul untuk menuju makam Ki Branjang Kawat dengan membawa makanan seperti jajanan pasar, nasi bungkus, dan berbagai buah-buahan.
Foto dok IST
Ribuan warga Dusun Wates Sembungan berbondong-bondong menuju makam atau kuburan Ki Branjang Kawat dengan membawa makanan seperti jajanan pasar serta berbagai nasi bungkus dan aneka buah-buahan yang di bawa dari rumah.

RASIKAFM.COM | SURUH – Menjelang bulan Ramadan warga Desa Plumbon Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang Jawa Tengah menggelar tradisi nyadran.

Tradisi nyadran ini merupakan tradisi dalam menghantarkan doa dan membersihkan makam leluhur yang sudah meninggal untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Ribuan warga Dusun Wates Sembungan berbondong-bondong menuju makam atau kuburan Ki Branjang Kawat dengan membawa makanan seperti jajanan pasar serta berbagai nasi bungkus dan aneka buah-buahan yang di bawa dari rumah.

Sesampainya di makam para warga kemudian membersihkan makam serta menghantarkan doa kepada para leluhur dan orang tua yang sudah meninggal di makam Ki Branjang Kawat yang merupakan tokoh yang di percaya sebagai pendiri dan sesepuh Dusun Wates Sembungan.

Tokoh Masyarakat, Umar mengatakan tradisi nyadran ini untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan digelar secara rurun temurun oleh masyarakat sejak puluhan tahun lalu.

“Untuk mengenang ahli waris atau leluhur yang sudah gugur di makam ini dan juga seluruh warga juga mendoakan mereka dan orang tua yang ada di makam ini,” kata jumat (8.3.2024) pagi.

Pada puncak acara nyadran para warga yang membawa makanan dari rumah kemudian di gelar di atas tikar kemudian dimakan bersama-sama setelah didoakan oleh sesepuh dengan harapan mendapat keberkahan.

Selain itu tradisi nyadran ini juga untuk sarana saling bersilaturahmi antar warga bahkan banyak perantau yang pulang kampung untuk mengikuti tradisi nyadran seperti dari Kalimantan, Sumatra, Jabodetabek dan lainnya.

“Ini juga agar masyarakat lebih erat dan banyak juga yang datang dari luar seperti Kalimantan, Sumatra, Jakarta,” tambahnya.

Sementara warga, Yulinar mengaku tradisi ini selalu digelar setiap tahunnya sebelum masuk bulan Ramadhan. Dengan tradisi ini dirinya berharap mendapatkan anugerah keselamatan hidup di dunia.

“Ini tadi juga bawa makanan dari rumah jadi apa yang kita punya di bawa ke sini (makam) dan dimakan bersama-sama. Selain mendoakan para leluhur bisa bertemu saudara yang jauh juga,” kata Yulinar.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Jateng Guyub menggelar aksi penolakan rencana pembangunan geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Lawu sejak Selasa (22/9/2026). Gerakan yang disebut menghimpun elemen masyarakat dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah itu dilakukan dengan berjalan kaki menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kehidupan generasi mendatang.
Massa Gelar Aksi Longmarch Gedong Songo-Kantor Gubernur Jateng, Suarakan Penolakan Geothermal
[pekok2]