URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Kopi dengan cita rasa khas moka dari Gunung Kelir, Kabupaten Semarang, resmi mendapatkan sertifikat indikasi geografis dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, mendorong pengembangan produk lokal termasuk kopi robusta Gunung Kelir. Dengan dukungan penuh, kopi ini siap menembus pasar ekspor dan dikenal di kafe-kafe di Jawa Tengah serta luar negeri.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis, Kopi Robusta Gunung Kelir Siap Tembus Pasar Global

Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis, Kopi Robusta Gunung Kelir Siap Tembus Pasar Global

Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis, Kopi Robusta Gunung Kelir Siap Tembus Pasar Global

Penjaga sebuah stand produk kopi lokal Kabupaten Semarang meracik kopi robusta Gunung Kelir dalam acara Agro Festival Kabupaten Semarang 2023 di Lapangan Desa Genting, Kecamatan Jambu, Sabtu (14/10/2023). Foto: win
Penjaga sebuah stand produk kopi lokal Kabupaten Semarang meracik kopi robusta Gunung Kelir dalam acara Agro Festival Kabupaten Semarang 2023 di Lapangan Desa Genting, Kecamatan Jambu, Sabtu (14/10/2023). Foto: win
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Kopi robusta Gunung Kelir resmi mengantongi sertifikat indikasi geografis dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Artinya, salah satu syarat untuk dapat menembus pasar ekspor sudah terpenuhi sehingga kopi dengan cita rasa khas moka itu siap mendunia.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Gunung Kelir Kabupaten Semarang yang telah menyusun dokumen deskripsi indikasi geografis sampai ke tahap pendaftaran.

[custom-related-posts title=”Kabar Terkait: ” order=”ASC”]

“Sertifikat indikasi geografis menjadi salah satu syarat untuk membuka pasar ekspor. Cita rasa yang unik dari kopi
robusta dari kawasan Gunung Kelir menjadi modal untuk dijual ke luar negeri,” ungkap Ngesti.

Di sisi lain, Ngesti juga mendorong kepada seluruh pihak untuk dapat mendukung upaya memajukan produk kopi lokal itu. Salah satunya adalah membuat surat edaran kepada seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, kepala desa dan lurah untuk membeli kopi robusta Gunung Kelir minimal 2 kilogram.

“Sehingga penjualan dari petani bisa mencapai 1 ton. Kalangan TNI Polri juga kami minta hal yang sama, beli produk lokal,” terang Ngesti.

Ngesti menambahkan, tak hanya kopi lokal saja, melainkan potensi pertanian yang lain seperti jahe, empon-empon, dan palawija juga dikembangkan. Caranya adalah dengan sistem tumpang sari.

“Saat ini budidaya kopi sudah di atas 2.000 hektare, kalau dikombinasi dengan tanaman tumpang sari maka akan ada nilai tambahnya,” imbuhnya.

Kepala Subbidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kemenkumham, Tri Junianto menyampaikan, dengan terbitnya sertifikat itu kopi robusta Gunung Kelir dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas.

“Kami mendukung penuh kopi robusta Gunung Kelir dapat tersedia di kafe-kafe di Jawa Tengah bahkan bisa diekspor ke luar negeri karena syarat formalnya sudah terpenuhi,” kata Tri.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno menjelaskan, pihaknya mendukung penuh langkah-langkah dalam rangka memajukan produk lokal yang dalam hal ini kopi robusta Gunung Kelir.

“Biar punya sense of belonging (rasa memiliki). Makanya saya setuju dengan kebijakan bagi kafe-kafe yang ada di Kabupaten Semarang menggunakan produk lokal, sebagai bentuk tanggungjawab moral,” paparnya. (win)

BACA JUGA :

Dua kebakaran terjadi hampir bersamaan di Kecamatan Bergas dan Tengaran, Kabupaten Semarang, Selasa (4/8/2026). Kebakaran di Toko Niki Mantep diduga dipicu korsleting listrik, sedangkan kebakaran rumah di Desa Klero diduga berasal dari tungku yang masih menyala. Berkat respons cepat petugas pemadam kebakaran dan bantuan warga, kedua peristiwa berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Dalam Waktu Bersamaan, Dua Kebakaran Terjadi di Kabupaten Semarang
Proyek wisata Jateng Valley di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, hingga kini belum kembali dilanjutkan setelah terhenti sejak pandemi COVID-19. Kondisi tersebut disampaikan warga dan pemerintah kelurahan, Senin (3/8/2026), yang berharap pembangunan segera diteruskan agar kawasan kembali hidup, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Mangkraknya Jateng Valley, Warga Menanti Proyek Wisata Kembali Hidup
Polres Semarang memastikan laporan titik panas di kawasan hutan Watu Gajah, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, bukan merupakan kebakaran hutan maupun lahan. Kasat Reskrim Polres Semarang Bodia Teja Lelana menjelaskan hasil verifikasi lapangan pada Jumat (1/8/2026) menunjukkan hotspot berasal dari bekas pembakaran rumput di lahan warga yang telah padam, sehingga kondisi dinyatakan aman dan terkendali.
Titik Panas di Pringapus Terekam Satelit NASA, Polres Semarang Temukan Bekas Pembakaran Rumput
Bupati Semarang Ngesti Nugraha
Pertumbuhan Kawasan Industri Picu Permukiman Baru, Pemkab Semarang Siapkan Penataan
Rumah Amin Akhirnya Layak Ditinggali, Gotong Royong TMMD Ubah Harapan Warga Desa Cukil
Rumah Amin Akhirnya Layak Ditinggali, Gotong Royong TMMD Ubah Harapan Warga Desa Cukil
Bupati Semarang Ngesti Nugraha melantik 118 pejabat struktural dan 17 pejabat fungsional di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Ungaran, Kamis (30/7/2026). Pelantikan dilakukan untuk mengisi jabatan yang masih kosong, menyegarkan organisasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Bupati menegaskan seluruh proses mutasi dan promosi dilaksanakan secara profesional tanpa praktik jual beli jabatan.
Lantik 118 Pejabat, Bupati Semarang Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Pemerintah Kabupaten Semarang meluncurkan tiga proyek perubahan, yakni Pangan Berdikari, Sadewa, dan Gada Krisna di Balai Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Selasa (28/7/2026). Bupati Ngesti Nugraha menyatakan program tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana, serta mencegah penyalahgunaan narkoba melalui kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat berbasis desa.
Tiga Program Perubahan Diluncurkan, Pemkab Semarang Perkuat Ketahanan Pangan, Mitigasi Bencana hingga Perang Melawan Narkoba
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Tahun Anggaran 2026 resmi dilaksanakan di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, selama 15 Juli hingga 13 Agustus 2026. Komandan Kodim 0714/Salatiga Fajar Hapsari Nugroho menyatakan program ini berfokus pada pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1,25 kilometer yang menghubungkan Desa Cukil dan Desa Kemetul, disertai pembangunan rumah tidak layak huni, rehabilitasi fasilitas ibadah, serta pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan akses dan kesejahteraan warga.
TMMD Reguler ke-129 di Kabupaten Semarang Resmi Bergulir, Perkuat Infrastruktur dan Ekonomi Warga
Ratusan Warga Meriahkan Gelar Pasar Murah dan Cek Kesehatan di Kejari Salatiga
Ratusan Warga Meriahkan Gelar Pasar Murah dan Cek Kesehatan di Kejari Salatiga

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved