KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Kawanan Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Gintungan Ungaran Barat, Rusak Tanaman hingga Curi Jemuran

Kawanan Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Gintungan Ungaran Barat, Rusak Tanaman hingga Curi Jemuran

Kawanan Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Gintungan Ungaran Barat, Rusak Tanaman hingga Curi Jemuran

Monyet ekor panjang berkeliaran dan meresahkan warga Dusun Gantungan, Desa Gogik, Ungaran Barat. Foto: tangkapan layar video warga.

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Video kawanan monyet ekor panjang yang menyerbu permukiman warga Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat gerombolan monyet mengetuk pintu dan jendela rumah warga, sementara sebagian lainnya bermain di jemuran pakaian.

Salah satu warga, Hidayat, mengatakan kawanan monyet itu pertama kali muncul dengan jumlah sekitar 50 ekor. Namun, seiring waktu jumlahnya semakin bertambah. Kedatangan monyet tidak menentu, bisa pagi, siang, maupun sore hari, dan selalu bergerombol.

“Mereka datang bareng-bareng, nyeberang jalan. Sekali nyebrang bisa 20 ekor,” ujar Hidayat saat ditemui di rumahnya, Kamis (29/1/2026).

Keberadaan kawanan monyet ini dinilai sangat mengganggu aktivitas warga. Sejumlah tanaman milik warga habis dimakan atau dirusak, seperti nangka, singkong, pisang, hingga alpukat. Bahkan, tanaman alpukat yang masih muda sering dipetik lalu dibuang sehingga warga gagal panen. Pohon kelapa muda hingga tanaman yang baru ditanam pun tak luput dari kerusakan.

“Anak-anak juga takut diserang, karena monyetnya jumlahnya banyak,” katanya.

Ketua RT 04 Dusun Gintungan, Muhyiddin, mengatakan warga sudah berupaya mengatasi gangguan tersebut dengan berbagai cara. Mulai dari memasang jebakan kandang berisi umpan singkong dan pisang, hingga mencoba mengusir dengan alat sederhana. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

“Sudah pasang jebakan, bahkan ada yang nembak, tapi monyetnya tidak takut dan tetap muncul. Mereka datangnya bareng-bareng,” jelas Muhyiddin.

Ia menambahkan, warga juga sempat berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang kemudian memasang jebakan di salah satu lapangan dekat permukiman. Namun, jebakan tersebut tidak berhasil menangkap satu pun monyet.

“Kemarin sekitar 50 bibit sengon saya juga dirusak, padahal satu bibit harganya Rp5.000. Tanaman cabai, terong, dan alpukat yang sempat berbuah juga hancur dirusak monyet,” keluhnya.

Warga berharap ada solusi konkret dari pihak terkait, terutama agar kawanan monyet tersebut bisa dipindahkan ke habitat yang lebih sesuai. Hingga kini, asal-usul monyet masih belum diketahui secara pasti. Meski ada dugaan berasal dari kawasan Goa Kreo, pihak pengelola Goa Kreo disebut tidak pernah melepasliarkan monyet ke wilayah tersebut.

“Kami inginnya monyet dipindah saja ke tempat lain. Kalau dibiarkan, hasil bumi warga habis semua,” pungkas Muhyiddin. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]