RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

KABAR RASIKA

Kawanan Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Gintungan Ungaran Barat, Rusak Tanaman hingga Curi Jemuran

Kawanan Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Gintungan Ungaran Barat, Rusak Tanaman hingga Curi Jemuran

Kawanan Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Gintungan Ungaran Barat, Rusak Tanaman hingga Curi Jemuran

Monyet ekor panjang berkeliaran dan meresahkan warga Dusun Gantungan, Desa Gogik, Ungaran Barat. Foto: tangkapan layar video warga.

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Video kawanan monyet ekor panjang yang menyerbu permukiman warga Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat gerombolan monyet mengetuk pintu dan jendela rumah warga, sementara sebagian lainnya bermain di jemuran pakaian.

Salah satu warga, Hidayat, mengatakan kawanan monyet itu pertama kali muncul dengan jumlah sekitar 50 ekor. Namun, seiring waktu jumlahnya semakin bertambah. Kedatangan monyet tidak menentu, bisa pagi, siang, maupun sore hari, dan selalu bergerombol.

“Mereka datang bareng-bareng, nyeberang jalan. Sekali nyebrang bisa 20 ekor,” ujar Hidayat saat ditemui di rumahnya, Kamis (29/1/2026).

Keberadaan kawanan monyet ini dinilai sangat mengganggu aktivitas warga. Sejumlah tanaman milik warga habis dimakan atau dirusak, seperti nangka, singkong, pisang, hingga alpukat. Bahkan, tanaman alpukat yang masih muda sering dipetik lalu dibuang sehingga warga gagal panen. Pohon kelapa muda hingga tanaman yang baru ditanam pun tak luput dari kerusakan.

“Anak-anak juga takut diserang, karena monyetnya jumlahnya banyak,” katanya.

Ketua RT 04 Dusun Gintungan, Muhyiddin, mengatakan warga sudah berupaya mengatasi gangguan tersebut dengan berbagai cara. Mulai dari memasang jebakan kandang berisi umpan singkong dan pisang, hingga mencoba mengusir dengan alat sederhana. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

“Sudah pasang jebakan, bahkan ada yang nembak, tapi monyetnya tidak takut dan tetap muncul. Mereka datangnya bareng-bareng,” jelas Muhyiddin.

Ia menambahkan, warga juga sempat berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang kemudian memasang jebakan di salah satu lapangan dekat permukiman. Namun, jebakan tersebut tidak berhasil menangkap satu pun monyet.

“Kemarin sekitar 50 bibit sengon saya juga dirusak, padahal satu bibit harganya Rp5.000. Tanaman cabai, terong, dan alpukat yang sempat berbuah juga hancur dirusak monyet,” keluhnya.

Warga berharap ada solusi konkret dari pihak terkait, terutama agar kawanan monyet tersebut bisa dipindahkan ke habitat yang lebih sesuai. Hingga kini, asal-usul monyet masih belum diketahui secara pasti. Meski ada dugaan berasal dari kawasan Goa Kreo, pihak pengelola Goa Kreo disebut tidak pernah melepasliarkan monyet ke wilayah tersebut.

“Kami inginnya monyet dipindah saja ke tempat lain. Kalau dibiarkan, hasil bumi warga habis semua,” pungkas Muhyiddin. (win)

BACA JUGA :

kecelakaan
Duka di Malam Sabtu, Pengendara Honda Beat alami Laka hingga Meninggal
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum terdeteksi mencapai permukaan Jawa Tengah berdasarkan pemantauan dan uji paper test di sejumlah wilayah, termasuk Semarang, Tegal, dan Cilacap. Pemprov Jateng, BPBD, BMKG, dan Dinkes meminta masyarakat tetap waspada tanpa panik, terutama terhadap paparan PM2,5 dan debu selama musim kemarau yang dapat memicu gangguan pernapasan.
Imbas GAK, Pemkot Semarang Minta Warga tidak Panik
Keluarga Mozza Axillia Gunarsa (18), remaja asal Bergas, Kabupaten Semarang, meyakini jasad yang ditemukan merupakan putrinya setelah mengenali pakaian, jepit rambut, rambut ikal, dan ciri gigi korban. Senin (7/9/2026), ayah Mozza meminta proses hukum terhadap tersangka berjalan transparan dan pelaku dihukum berat. Hasil pemeriksaan DNA masih ditunggu keluarga.
Ayah Mozza Minta Pelaku Dihukum Berat, Keluarga Menduga Ada Motif Pembunuhan Berencana
BALAP-LIAR
Balap Liar dan Knalpot Brong Makin Meresahkan, Satlantas Polres Salatiga amankan 75 Motor
Penerbangan Ditutup Imbas Abu Vulkanik Krakatau, KAI Operasikan Kereta Api Tambahan Tujuan Jakarta
Penerbangan Ditutup Imbas Abu Vulkanik Krakatau, KAI Operasikan Kereta Api Tambahan Tujuan Jakarta
Kerangka Manusia Ditemukan di Jangli Semarang, Diduga Remaja Asal Bergas yang Hilang Setahun Lalu
Jejak Perangkat Elektronik Antar Polisi Ungkap Kasus Hilangnya Mozza, Terduga Pelaku Pembunuhan Ditangkap di Blora

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

DPRD Kabupaten Semarang meminta sosialisasi rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran tidak menjadi formalitas agar masyarakat dapat menyatakan menerima atau menolak proyek tersebut. Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menyampaikan hal itu di Ungaran, Kamis (10/9/2026), karena suara warga dinilai penting dalam proses pembangunan dan pengelolaan lingkungan.
DPRD Kabupaten Semarang Ingatkan Sosialisasi Geothermal Jangan Dianggap Persetujuan Warga
Masyarakat dapat mengecek status desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) secara online melalui laman dtsen-form.bps.go.id menggunakan NIK. Pemeriksaan dapat dilakukan untuk mengetahui kesesuaian data sosial ekonomi yang menjadi salah satu acuan penentuan sasaran bantuan. Jika data tidak sesuai, masyarakat dapat mengajukan sanggahan atau meminta bantuan desa maupun kelurahan.
Cara Cek Desil DTSEN dengan HP
Tim sepak bola Popda Kota Salatiga berhasil menjadi juara Popda Jawa Tengah 2026 setelah mengalahkan Kabupaten Wonogiri 1-0 pada partai final. Sebelumnya, Salatiga menyingkirkan Kota Semarang melalui adu penalti 5-3 di semifinal. Gelar ini diraih berkat konsistensi, kekompakan, dan mental bertanding para pemain muda sepanjang kompetisi.
Skuad Muda Juara, Perjuangan Tim Sepak Bola Salatiga di ajang Popda Jateng Berbuah Manis
Menag MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
Menag: MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama