URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Para perantau memanfaatkan momentum Hari Raya Idul Fitri sebagai kesempatan untuk pulang kampung, dengan segala persiapannya agar terlihat sukses di tanah rantau. Kehadiran di kampung halaman tak hanya berkaitan dengan aspek karir, ekonomi, atau asmara, tetapi juga menjadi titik balik dalam kehidupan. Meskipun kondisi tidak selalu menguntungkan, para perantau tetap memutuskan untuk pulang kampung tanpa memedulikan situasi. Terlihat lucu, para pemudik yang menggunakan sepeda motor menuliskan kondisi hati mereka pada selembar kertas yang dipasang di bagian belakang motor sebagai ekspresi perasaan mereka dalam perjalanan panjang pulang kampung.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Tulisan Galau Pemudik Bermotor saat Melintas di Salatiga Bikin Ketawa Sekaligus Trenyuh Bagi yang Membaca

Tulisan Galau Pemudik Bermotor saat Melintas di Salatiga Bikin Ketawa Sekaligus Trenyuh Bagi yang Membaca

Tulisan Galau Pemudik Bermotor saat Melintas di Salatiga Bikin Ketawa Sekaligus Trenyuh Bagi yang Membaca

Para perantau memanfaatkan momentum Hari Raya Idul Fitri sebagai kesempatan untuk pulang kampung, dengan segala persiapannya agar terlihat sukses di tanah rantau. Kehadiran di kampung halaman tak hanya berkaitan dengan aspek karir, ekonomi, atau asmara, tetapi juga menjadi titik balik dalam kehidupan. Meskipun kondisi tidak selalu menguntungkan, para perantau tetap memutuskan untuk pulang kampung tanpa memedulikan situasi. Terlihat lucu, para pemudik yang menggunakan sepeda motor menuliskan kondisi hati mereka pada selembar kertas yang dipasang di bagian belakang motor sebagai ekspresi perasaan mereka dalam perjalanan panjang pulang kampung.
Foto: dok Ade
seorang pemudik saat melintas di JLS Salatiga dengan tulisan yang menyentuh
featured-img

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Hari Raya Idul Fitri selalu dijadikan momentum para perantau untuk pulang kampung. Mereka mempersiapkan segala sesuatu agar tampak ‘berhasil’ di tanah rantau.

Tak hanya soal karir, ekonomi, atau kisah cinta. Hal ini karena tanah rantau seolah menjadi jawaban atas segala pertanyaan di kehidupan. Namun, karena keadaan tak selalu berpihak, para perantau tetap nekat pulang apapun kondisinya.

Lucunya, para pemudik yang menaiki sepeda motor, menuliskan kondisi yang dialaminya di secarik kertas dan dipasang di bagian belakang motor. Tulisan-tulisan tersebut seolah menjadi gambaran suasana hati pemudik yang rela melewati ratusan kilometer untuk tetap menjalin silaturahmi di kampung halaman.

Seperti yang dilakukan Budi Ariawan (26). Lelaki asal Madiun Jawa Timur yang bekerja di sebuah pabrik Karawang Jawa Barat. Dia berangkat dari kosnya pada Jumat (5/4/2024) siang. Dengan menaiki sepeda motor matic, di jok belakang ditaruh tas ukuran sedang dan ada tulisan ‘Sugih kere tetep mulih, wong tuo butuhe sungkem dudu mantu (Kaya miskin tetap balik, orangtua butuhnya sungkem bukan menantu)’.

“Iseng aja nulis itu, terus diprint. Buat lucu-lucuan juga meski itu gambaran suasana hati saya,” kata Budi, Minggu (7/4/2024) saat istirahat di Jalan Lingkar Salatiga (JLS) Kota Salatiga Jawa Tengah.

Salah seorang pemudik saat beristirahat di SPBU Tengaran

Menurut Budi, dirinya sempat pacaran dengan seorang perempuan selama enam bulan. Rencananya, Lebaran ini mau diajak ke kampungnya di Madiun untuk berkenalan dengan orangtuanya. “Ya saya sudah bilang ibu, mau ngenalin gitu. Tapi rencana tinggal rencana, dia ngajak putus dan memilih lelaki lain,” paparnya.

“Tapi tidak apa-apa, dari pada salah milih pasangan lebih baik mudik sendiri. Tulisan itu juga biar jadi penyemangat saya di jalan, dan orangtua tidak tanya terus soal menikah,” ungkap Budi.

Sementara Prabowo, yang hendak mudik ke Sragen menuliskan, ‘Ojo takok soal bojo. Tak laporke polisi pasal perbuatan tidak menyenangkan (Jangan tanya soal istri. Nanti saya laporkan ke polisi pasal perbuatan tidak menyenangkan.’

Dia menulis hal tersebut agar tidak banyak pertanyaan soal kisah cintanya. “Ya memang kita jomblo, tapi gak usah tanya soal pasangan. Biar hidup begini, yang penting nabung dulu,” ungkapnya sembari tertawa.

Selain di keluarga, pertanyaan soal pendamping hidup banyak mewarnai saat bertemu dengan teman masa kecil. “Ya biasa kalau reuni kan pasti ditanya soal pekerjaan, soal istri atau apapun, tapi ya cuek aja. Anggap aja bercanda antar teman, malah jadi ada bahan lelucon,” kata Prabowo.

BACA JUGA :

Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional
Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi
Sebanyak 165 warga binaan Rutan Kelas IIB Salatiga mengikuti Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang digelar BPS Kota Salatiga di Aula Rutan, Kamis (20/8/2026). Pendataan tersebut dilakukan untuk memperoleh data ekonomi yang akurat dan komprehensif sebagai dasar perencanaan pembangunan, sekaligus memperkuat sinergi antara BPS dan jajaran pemasyarakatan.
Sensus Ekonomi 2026 Sasar Rutan Salatiga
Sebuah kios perlengkapan pakaian muslim di Pasar Raya II, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Salatiga, terbakar pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Kebakaran diduga dipicu korsleting listrik pada lampu bagian atas ruko yang digunakan sebagai gudang. Tiga unit mobil damkar dikerahkan dan api berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa.
Tiga Unit Mobil Pemadam Lumpuhkan Api yang Membakar Kios Perlengkapan Muslim di Salatiga
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum kepada siswa SMP Negeri 10 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah (JMS), Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di mushola sekolah tersebut membahas perundungan, tawuran, kekerasan, narkotika, pelecehan seksual, pencurian, hingga penggunaan media sosial secara bijak untuk membangun kesadaran hukum sejak dini.
Program JMS di SMP 10 Salatiga, Siswa Diberikan Materi Tentang Hukum dan Konsekuensinya
Kejaksaan Negeri Salatiga menyetorkan Rp150.297.670 hasil lelang 19 lot Barang Rampasan Negara ke Kas Negara, Kamis (20/8/2026). Lelang yang digelar melalui KPKNL Semarang pada 11–12 Agustus itu diikuti 66 peserta dan mencakup berbagai barang, mulai dari mobil, ponsel, pompa, penampungan air hingga tanah.
Eksekusi Tuntas, Kejaksaan Negeri Salatiga Setorkan Uang Ratusan Juta ke Kas Negara

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan
Kejaksaan Negeri Salatiga menyetorkan Rp150.297.670 hasil lelang 19 lot Barang Rampasan Negara ke Kas Negara, Kamis (20/8/2026). Lelang yang digelar melalui KPKNL Semarang pada 11–12 Agustus itu diikuti 66 peserta dan mencakup berbagai barang, mulai dari mobil, ponsel, pompa, penampungan air hingga tanah.
Eksekusi Tuntas, Kejaksaan Negeri Salatiga Setorkan Uang Ratusan Juta ke Kas Negara