RASIKAFM.COM | UNGARAN – Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang menemukan persoalan serius terkait kekurangan tenaga pendidik di sejumlah sekolah. Hasil monitoring selama beberapa hari terakhir menunjukkan, banyak guru yang memasuki masa purna tugas sementara pengisian formasi baru belum dilakukan.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, menjelaskan kondisi ini berdampak langsung pada efektivitas pembelajaran. Misalnya, di sebuah SD dengan enam rombongan belajar (rombel) dan enam guru, ketika satu guru pensiun maka kepala sekolah atau guru lain terpaksa merangkap. Tahun depan, jika ada lagi yang pensiun tanpa ada perekrutan, kekosongan guru dipastikan semakin meluas.
“Yang aneh lagi di SMP ada guru PAI (Pendidikan Agama Islam) pensiun, karena beban mengajarnya lebih dari 30 jam per minggu, akhirnya guru matematika diminta mengajar agama. Padahal itu bukan disiplin ilmunya. Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, Indonesia Emas tidak akan tercapai. Guru jangan asal diisi, guru agama pensiun ya harus diisi guru agama,” tegas Joko usai melaksanakan kunjungan di SD Negeri 02 Ungaran, Kamis (28/8/2025).
Menurutnya, beban mengajar yang melebihi 30 jam per minggu membuat guru jenuh dan efektivitas pembelajaran menurun. Sementara ini, formasi PPPK belum ada pengajuan tambahan dan kebijakan dari pemerintah pusat dinilai “pukul rata” sehingga tidak sesuai kebutuhan daerah.
Temuan selama monitoring tiga hari terakhir menunjukkan banyak sekolah yang kekurangan guru. Di SMP Negeri 1 Bawen misalnya, kekurangan guru PAI, sementara tahun ini guru Bahasa Jawa juga pensiun. Di tingkat SD, permasalahan lain muncul karena tidak adanya tenaga operator sekolah. Alhasil, kepala sekolah maupun guru harus merangkap tugas sebagai operator untuk mengisi data ke kementerian.
“Kami berharap pemerintah pusat jangan menyamakan kebijakan tenaga pendidik di semua daerah. Setiap sekolah punya kebutuhan berbeda, dan harus ada solusi agar kekosongan guru tidak mengganggu kualitas pendidikan,” pungkas Joko. (win)