RASIKAFM.COM | UNGARAN – Gerbang utama kawasan Jateng Valley di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, kini tampak tertutup rapat. Pagar seng yang digembok, bangunan yang mulai kusam, serta semak belukar yang tumbuh di sekitarnya menjadi gambaran proyek wisata yang hingga kini belum juga berlanjut.
Di balik gerbang yang sunyi itu, Maryam (52), warga sekaligus pedagang makanan yang membuka warung tepat di depan pintu masuk kawasan, menjadi saksi perjalanan proyek yang sempat membawa harapan besar bagi masyarakat.
Menurut Maryam, aktivitas pembangunan mulai terlihat sekitar tahun 2020. Saat itu, puluhan pekerja setiap hari keluar masuk kawasan untuk mengerjakan proyek yang digadang-gadang menjadi destinasi wisata terbesar di Asia Tenggara.
“Awalnya ramai sekali. Banyak pekerja datang setiap hari. Warga juga berharap nanti bisa membuka usaha karena kalau wisatanya jadi tentu pengunjung akan banyak,” ujarnya ditemui di warungnya, Senin (3/8/2026).
Namun, suasana tersebut tidak berlangsung lama. Sejak pandemi Covid-19 melanda, aktivitas pembangunan perlahan berhenti hingga akhirnya proyek benar-benar mangkrak.
“Setelah Covid-19, pekerja sudah tidak ada lagi. Kami sempat berpikir nanti akan dilanjutkan, tetapi sampai sekarang belum ada kabar,” katanya.
Maryam mengaku beberapa kali masih melihat rombongan datang meninjau lokasi. Ia menduga mereka merupakan calon investor, namun kunjungan tersebut tidak pernah berlanjut menjadi pembangunan.
“Pernah ada tamu datang melihat-lihat, mungkin investor. Tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya,” tuturnya.
Berhentinya proyek turut berdampak pada penghasilan warga sekitar. Warung milik Maryam yang dahulu ramai didatangi pekerja maupun pengunjung kini hanya mengandalkan pengguna jalan yang melintas.
“Dulu banyak yang makan, ngopi, sampai bungkus nasi. Sekarang paling hanya orang lewat saja. Rasanya sepi sekali,” ungkapnya.
Sebelum direncanakan menjadi Jateng Valley, kawasan seluas sekitar 372 hektare tersebut dikenal sebagai Wana Wisata Penggaron yang dikelola Perhutani. Kawasan itu menjadi salah satu tujuan wisata alam favorit di Kabupaten Semarang.
Maryam mengenang, setiap musim liburan sekolah kawasan tersebut selalu dipenuhi kegiatan perkemahan. Selain itu, jalur offroad, aktivitas sepeda gunung, hingga penelitian mahasiswa juga rutin digelar di kawasan hutan tersebut.
“Dulu paling ramai saat musim kemah. Saya sering memasak katering untuk peserta kemah. Offroad juga ramai, mahasiswa sering penelitian di sini,” kenangnya.
Meski harga tiket masuk saat itu hanya sekitar Rp6.000, suasana hutan yang asri mampu menarik banyak pengunjung.
Maryam berharap proyek Jateng Valley dapat kembali dilanjutkan sehingga kawasan tersebut hidup kembali dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Kalau bisa diteruskan saja. Sayang kalau dibiarkan seperti ini. Kalau dibangun lagi pasti banyak orang datang dan masyarakat juga bisa ikut mencari rezeki,” harapnya.
Sementara itu, Lurah Susukan, Suhartono, mengatakan pihak kelurahan tidak mengetahui secara rinci perkembangan maupun skema kerja sama proyek Jateng Valley. Menurutnya, pemerintah kelurahan hanya pernah dilibatkan saat sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada awal rencana pembangunan.
“Setelah sosialisasi memang pembangunan sempat berjalan, tetapi sekarang berhenti dan belum ada informasi lagi mengenai kelanjutannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah fasilitas seperti akses jalan dan gazebo sempat dibangun, namun kawasan tersebut belum pernah beroperasi sebagai destinasi wisata.
Suhartono menambahkan, masyarakat sebenarnya telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut keberadaan Jateng Valley. Melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), lingkungan permukiman di sekitar kawasan ditata, sementara warga juga membentuk kelompok wanita tani sebagai bagian dari persiapan menghadapi potensi meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Harapan masyarakat tentu proyek ini bisa dilanjutkan. Yang penting nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi warga,” pungkasnya. (win)






