KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Mendulang Cuan dari Manisnya Gula Aren Lereng Telomoyo

Mendulang Cuan dari Manisnya Gula Aren Lereng Telomoyo

Mendulang Cuan dari Manisnya Gula Aren Lereng Telomoyo

Gula aren Desa Kemambang, Banyubiru menjadi salah satu tumpuan sektor ekonomi masyarakat setempat. Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Menjamurnya kedai kopi di berbagai kota, menjadi surga tersendiri bagi pecintanya. Tak hanya menggerakkan perekonomian di sektor hilir, berbagai pihak yang menjadi ekosistem pendukungnya turut merasakan berkahnya. Salah satu komponennya adalah produsen gula. Bahan pemanis itu tentu menjadi pelengkap yang wajib ada bagi yang tak terlalu suka cita rasa pahit kopi.

Jika biasanya minuman kopi diseduh dengan campuran gula pasir, di kedai kopi kekinian menu kopi jamak disajikan dengan gula aren. Itu menjadi salah satu favorit anak muda yang biasa nongkrong di kedai kopi. Tak ayal, kondisi ini pun berpengaruh pada produksi gula aren sebagai campuran pembuat kopi.

Di Dusun Kemambang, Desa Kemambang, Banyubiru, Kabupaten Semarang dikenal sebagai salah satu penghasil gula aren tradisional. Gula aren yang dihasilkan di lereng Gunung Telomoyo ini tidak hanya menjadi tumpuan sektor ekonomi masyarakat setempat, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi turun temurun dan kearifan lokal tersendiri.

Salah satu pembuat gula aren di Desa Kemambang adalah Eko Kadarsih. Ia bersama sang suami mulai membuat gula aren sejak dua tahun lalu. Proses pembuatan gula aren masih dilakukan dengan cara tradisional. Pertama diawali dengan menderas nira dari pohon aren yang dilakukan oleh suaminya. Setelah dikumpulkan, nira direbus selama enam jam hingga menjadi karamel.

“Setelah mengental, diangkat dan diaduk. Selanjutnya dicetak dengan ukuran satu kilogram hingga mengeras,” kata Kadarsih.

Selain berbentuk padat, Kadarsih juga membuat gula aren cair. Untuk varian ini dirasa lebih menguntungkan, sebab tidak membutuhkan waktu lama dan irit tenaga serta bahan bakar. Proses pembuatannya tidak menggunakan campuran bahan pengawet, sehingga daya tahan maksimal satu bulan. Untuk kemasan 250 mililiter, dijual seharga Rp 12.500.

“Kalau pemesan kebanyakan dari Kabupaten-Kota Semarang dan Salatiga. Masih di sekitaran sini,” ungkapnya.

Meski mengaku gula aren cair buatannya banyak diminati, namun ia tetap menjadikan gula aren padat menjadi produk utama. Sebabnya, sudah ada langganan yang setiap hari mengambil ke rumahnya. Untuk harga, saat ini mencapai Rp20 ribu per kilogramnya. “Kalau produksi banyak, setiap hari kisaran 10 sampai 12 kilogram. Tapi kalau niranya sedikit, minim tiga kilogram,” ujarnya.

Tantangan yang dihadapi oleh pembuat gula aren tradisional ini adalah soal promosi. Banyak yang kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas. Produk mereka sering kali hanya dipasarkan di sekitar desa atau daerah terdekat, sehingga potensi untuk mencapai pasar nasional belum maksimal. Meski demikian, Pemerintah Desa Kemambang sudah mendukung dengan selalu mengikutsertakan kalau ada pameran. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]