KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Polisi Tidur di Ruas Jalan Perintis Kemerdekaan Dikeluhkan Sejumlah Pengendara, Sebabkan Kerusakan Velg dan Leher Roda

Polisi Tidur di Ruas Jalan Perintis Kemerdekaan Dikeluhkan Sejumlah Pengendara, Sebabkan Kerusakan Velg dan Leher Roda

Polisi Tidur di Ruas Jalan Perintis Kemerdekaan Dikeluhkan Sejumlah Pengendara, Sebabkan Kerusakan Velg dan Leher Roda

Polisi tidur yang terletak di ruas Jalan Perintis Kemerdekaan, dekat perbatasan Kota Semarang dengan Ungaran, Kabupaten Semarang dikeluhkan pengendara yang melintas. (Foto/ tangkapan layar video warga)

UNGARAN – Keberadaan polisi tidur yang berada di ruas Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di dekat perbatasan Kota Semarang dan Ungaran Kabupaten Semarang dikeluhkan sejumlah pengendara. Pasalnya, menurut pengendara yang melintas polisi tidur tersebut terlalu tinggi dan tidak terlihat.

Pantauan pada Jumat (9/9/2022), sejumlah kendaraan terutama kendaraan besar seperti truk, tampak memperlambat lajunya ketika hendak melewati polisi tidur tersebut. Beberapa melintas dengan kecepatan yang cukup tinggi karena tidak melihat atau mengetahui keberadaan polisi tidur tersebut.

Seorang sopir truk tangki air minum, Aryanto mengaku mengalami kerusakan pada velg dan leher roda setelah setiap hari melewati polisi tidur itu.

“Awal-awalnya saya kaget, waktu lewat kok ada guncangan yang keras. Ternyata ada polisi tidur, ini kan jalur cepat. Apalagi wananya juga ‘nyaru’ sama aspal, nggak kelihatan,” ujarnya.

Ia berharap bahwa pihak berwenang dapat memasang rambu-rambu atau tanda peringatan sebelumnya untuk memelankan laju kendaraan. Ia juga menyarankan agar polisi tidur itu diberi warna yang mencolok. Tujuannya agar terlihat pengendara sehingga bisa memelankan laju kendaraannya.

“Saran ya, kalau mau kasih polisi tidur ya warna putih dan dikasih rambu-rambu sebelumnya, kira-kira jarak 200 meter,” ucapnya.

Keluhan yang sama juga dilontarkan oleh Andi, warga Kalongan, Ungaran Timur. Ia yang setiap hari mengendarai sepeda motor untuk bekerja mengaku hampir terjatuh saat melewati lokasi tersebut.

“Pernah hampir jatuh, karena ukurannya lumayan tinggi dan ramping. Kalau kena roda sepeda motor kan terasa sekali, apalagi yang lajunya cukup kencang karena nggak tahu,” katanya.

Sementara itu, pengemudi mobil Bowo Pribadi warga Pudakpayung, Kota Semarang mengatakan bahwa hal yang ia khawatirkan yakni kendaraan-kendaraan dari luar kota yang masih belum paham adanya polisi tidur tersebut.

“Karena pada ngebut-ngebut, kalau saya memperlambat laju mobil saya tapi yang di belakang saya masih pada ngebut-ngebut jadi seringnya pada kaget,” urainya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Polres Semarang menyiapkan satuan tugas penegakan hukum untuk mengantisipasi perjudian atau praktik botoh dalam Pilkades serentak 2026. Pengamanan juga mencakup potensi konflik antarcalon dan isu lokal di 140 desa pada 19 kecamatan. Sebanyak 787 personel disiapkan dan diperkuat personel BKO serta satu SST Brimob dengan sistem rayonisasi.
Cegah Pilkades di Kabupaten Semarang Jadi Arena Judi, Polisi Siapkan Satgas Penegakan Hukum
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Selasa, 6 Oktober 2026, didominasi kondisi cerah hingga berawan. Hasil pengamatan pukul 05.30 WIB mencatat suhu udara Semarang 27,7°C dengan kelembapan 75%. Suhu harian diprakirakan berkisar 27–36°C dengan kelembapan 40–75%, sedangkan hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian pegunungan Jawa Tengah bagian tengah.
09 Oktober 2026: Cuaca Semarang Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Pegunungan
Pemkab Semarang memperpanjang jatuh tempo pembayaran PBB-P2 hingga 31 Oktober 2026. Wajib pajak yang membayar sampai batas waktu tersebut tidak dikenai sanksi administrasi keterlambatan sebesar 1 persen. Kebijakan ini diambil untuk meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung kesehatan fiskal dan likuiditas keuangan daerah.
Bayar PBB-P2 Sebelum 31 Oktober, Warga Kabupaten Semarang Bebas Denda
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia menggelar program stabilisasi harga dan hilirisasi pangan di Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026). Program ini menyediakan beras seharga Rp11.000 per kilogram dan cabai rawit merah Rp10.000 per kemasan 200 gram, sekaligus memperkuat produksi pertanian dan membantu pedagang menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Tekan Inflasi, BI dan Pemprov Jateng Gelar Tebus Murah 6 Ton Beras dan 600 Kg Cabai
[pekok2]