KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Tradisi Cuci Karpet dan Sajadah Jelang Ramadan di Aliran Sumber Air Muncul Banyubiru

Tradisi Cuci Karpet dan Sajadah Jelang Ramadan di Aliran Sumber Air Muncul Banyubiru

Tradisi Cuci Karpet dan Sajadah Jelang Ramadan di Aliran Sumber Air Muncul Banyubiru

Aktivitas masyarakat mencuci karpet dan sajadah di aliran sumber air Muncul, Desa Rowoboni, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Senin (4/3/2024). Foto: win

RASIKAFM.COM | BANYUBIRU – Beragam kebiasaan atau tradisi dilakukan kaum muslim menjelang bulan suci Ramadan. Ada yang membersihkan badan atau ‘padusan’, ada pula yang mencuci karpet dan sajadah masjid.

Seperti yang terlihat di sumber air Muncul, Desa Rowoboni, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Ratusan warga berbondong-bondong datang ke sana sambil membawa gulungan karpet dan sajadah untuk dicuci.

Salah satunya adalah Muhammad Zaidi, seorang santri sebuah pondok pesantren di daerah Desa Rowosari, Banyubiru. Ia bersama santri yang lain datang untuk membersihkan piranti salat itu di aliran sumber air Muncul.

“Ini sudah jadi tradisi kami, terutama menjelang bulan puasa. Kebetulan kemarin habis majelisan di pondok, sehingga karpet dan sajadah yang dicuci cukup banyak,” kata Zaidi.

Ia sengaja memilih sumber air Muncul untuk mencuci karpet dan sajadah karena memiliki air yang jernih. Selain itu alirannya juga baik dan tempatnya luas sehingga gampang untuk mencuci karpet atau sajadah yang berukuran cukup besar.

“Bayar tiket masuk Rp3.000. Kalau untuk nyuci karpet dan sajadah mau berapapun gratis,” ujarnya.

Sementara Tukinah pengelola sumber air Muncul menjelaskan, menjelang bulan suci Ramadan tingkat kunjungan mengalami peningkatan. Tak hanya untuk berwisata, pengunjung banyak yang memanfaatkan untuk ‘padusan’ dan mencuci sajadah masjid dan musala.

“Rutin setiap tahun seperti ini kalau mau puasa, banyak yang nyuci sajadah di sini buat persiapan tarawih,” bebernya.

Tukinah mengaku kondisi ramai seperti ini sudah berlangsung selama dua hari. Pengunjung tak hanya berasal dari Banyubiru saja, melainkan ada yang datang dari Ambarawa, Tuntang, Kopeng, bahkan dari Kabupaten Temanggung.

“Nyuci di sini gratis mau berapa jumlahnya (sajadah), hanya bayar tiket masuk saja Rp3.000,” tandasnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]