RASIKAFM.COM | TENGARAN – Hasil produksi dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang merupakan sektor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemandirian desa, dengan fokus melakukan pemberdayaan masyarakat desa untuk mengoptimalkan potensi lokal desa, kini sudah mulai bisa dirasakan manfaatnya.
Salah satunya yang ada didesa Karangduren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Salah satu desa terbaik dalam pengembangan dan pengelolaan BUMDes di kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang.
Diberi nama BUMDes Menuju Masyarakat Sejahtera (Menara), mereka berhasil mengembangkan beberapa bidang usaha di dalam BUMDes tersebut, mulai dari pengelolaan pasar tradisional, persewaan sound system hingga alat berat, dan juga bidang usaha ketahanan pangan dengan fokus budidaya selada varietas premium.
Dalam wawancara dengan wartawan, Kepala Desa Karangduren, Muhamad Noor Majid mengungkapkan BUMDes menjadi salah satu pilar pembangunan dalam konsep “Bersatu dalam Harmoni, Maju dalam Pembangunan” yang pertumbuhannya terus di dorong oleh Pemerintah Desa.
“Sejak berdiri sejak tahun 2018 lalu Bumdes menara Alhamdulillah terus berkembang sampai dengan saat ini sudah ada beberapa bidang usaha didalamnya” katanya mengawali wawancara, Selasa (12.5.2026).
Tahun 2025 bidang usaha BUMDes memanfaatkan program ketahanan pangan dari 20 persen Dana Desa untuk mengembangkan bidang usaha sistem green house yang didalamnya fokus pada budidaya selada varietas premium dengan menggunakan sistem pertanian hidroponik dan aquaponik.
“Fokus utama di BUMDes Lungo Tani ini adalah budidaya selada varietas premium, ditambah dengan berbagai jenis tanaman sayuran lainnya dan budidaya ikan nila yang kami kelola di sebuah green house yang berdiri di lahan milik desa,” kata Majid.
Pantauan Rasika FM, penananam selada dilakukan dalam Green house seluas 300-an meter persegi termasuk didalamnya ada ternak ikan.
“Dari pengelolaan yang maksimal dari BUMDes Karangduren diseluruh bidang usaha ini, setidaknya mampu menyumbang 60 persen untuk Pendapatan Asli Desa. Dan nilai ini berharga sekali buat kami, di kondisi krisis fiskal yang terjadi,” ujarnya.
Dengan hasil tersebut menjadikan Desa Karangduren sebagai desa tertinggi untuk pendapatan PADes yang bersumber dari BUMDes di Kecamatan Tengaran.
Pengurus Menara, Eko Prasetyo dan Rahmad Arif mengakui meski usaha yang bergerak di budidaya selada hidroponik ini baru berjalan sejak tahun 2025, namun kini mulai dirasakan hasilnya setelah berhasil panen selada hidroponik.
“Kelebihan Selada kami berukuran besar dari selada pada umumnya atau jenis lokal, lalu daunnya lebar, bobotnya juga lebih berat ketimbang selada lokal, serta memiliki cita rasa yang manis menyegarkan, renyah. Jadi Alhamdulillah, Selada Karangduren ini banyak diburu masyarakat,” ungkap Eko.
Dengan budidaya selada hidroponik premium ini, Eko mengaku jika kini mulai banyak pesanan, termasuk pihaknya harus mensuplay ke jawa timur.
“Untuk produksi satu bulan bisa mencapai 400 sampai dengan 500 kilogram, padahal permintaan per minggunya bisa 100 sampai 200 kilogram, kami belum bisa maksimal dalam memenuhi permintaan pasar akan selada hidroponik ini,” terangnya.
Saat ini permintaan selada premium Karangduren tidak hanya datang dari masyarakat sekitar Tengaran, namun datang dari berbagai wilayah di luar Kabupaten Semarang.
Diantaranya konsumen dari Jember, Jawa Timur yang menjadi salah satu wilayah langganan tetap Selada Karangduren. Bahkan harga selada di Jember terbilang cukup mahal, yaitu di kisaran Rp 55 sampai Rp 60 ribu untuk per kilonya. Sementara jika dijual di Karangduren, per kilogramnya hanya dipatok di harga Rp 25 ribu dengan isi lima sampai enam bonggol selada.
Senada, Arif mengakui alasan awal memilih selada menjadi salah satu komoditas utama pada bidang usaha ketahanan pangan di BUMDes Menara ini karena perawatannya cukup mudah, termasuk pemasarannya.
“Jadi kami sistemnya ada pesanan dulu, baru kami panenkan, sehingga fresh ketangan pembeli. Selain itu, kami sudah ada pasarnya, jadi untuk distribusinya Alhamdulillah sudah maksimal, meski secara jumlah kami masih belum bisa maksimal disana,” tutur Arif.
Sementara itu camat Tengaran, Sri Sulistyorini mengungkapkan jika keberadaan Bumdes Menara Karangduren ini merupakan salah satu contoh nyata unit usaha yang bisa jalan, dikecamatan Tengaran, karena sudah terbukti menghasilkan. “Dari 15 Bumdes yang ada saat ini, Menara sudah terbukti mampu melakukan usaha produktif, kami mendorong Bumdes lain bisa mengikuti” ujar Camat.