URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Komunitas Kridha Beksa Wandawa menggelar kelas Tari Klasik Gaya Surakarta di Pendopo Bung Karno, Salatiga, Minggu (24/5/2026), sebagai upaya melestarikan budaya Jawa di tengah modernisasi. Kegiatan yang awalnya menargetkan 30 peserta ini diikuti 62 orang berusia 12 hingga 62 tahun, yang belajar Tari Golek Sri Rejeki untuk mengenal, menjaga, dan mewariskan seni tradisi kepada generasi masa kini.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Komunitas Kridha Beksa Wandawa Gelar Kelas Tari Klasik di Salatiga, Peserta Membludak

Komunitas Kridha Beksa Wandawa Gelar Kelas Tari Klasik di Salatiga, Peserta Membludak

Komunitas Kridha Beksa Wandawa Gelar Kelas Tari Klasik di Salatiga, Peserta Membludak

Kegiatan pelatihan kelas tari klasik di Pendopo Bung Karno pada Minggu. (Foto Arief Rasika)
featured-img

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Upaya melestarikan Tari Klasik Gaya Surakarta di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya populer mendapat sambutan hangat dari masyarakat Kota Salatiga, Jawa Tengah. Komunitas Kridha Beksa Wandawa menggelar kelas tari klasik di Pendopo Bung Karno pada Minggu (24/5/2026), dengan peserta yang datang dari berbagai usia.

Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah generasi masa kini. Awalnya, kelas tari tersebut hanya menargetkan 30 peserta. Namun antusiasme masyarakat justru melampaui perkiraan hingga mencapai 62 orang.

“Targetnya sebenarnya hanya 30 peserta, tapi membludak menjadi 62 peserta. Usianya mulai dari 12 tahun sampai yang paling tua sekitar 62 tahun,” ujar pengajar tari Grace Stella.

Ia menjelaskan, kelas terbuka ini sengaja digelar untuk mengenalkan kembali tari klasik gaya Surakarta kepada masyarakat Salatiga, terutama bagi mereka yang memiliki minat namun belum mengetahui harus belajar di mana.

“Di Salatiga ini peminat tari klasik sebenarnya banyak, tapi mungkin belum semua tahu harus belajar ke mana. Jadi kita buka open class seperti ini untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya,” tambahnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan salah satu repertoar klasik, yakni Tari Golek Sri Rejeki, yang dikenal dengan karakter gerak lembut, anggun, serta sarat makna filosofis.

Menariknya, sebagian besar peserta merupakan kalangan usia di atas 50 tahun. Meski demikian, semangat mereka tidak kalah dengan peserta muda. Dengan balutan kebaya, para peserta tampak serius mengikuti setiap arahan instruktur, mulai dari gerakan tangan, langkah kaki, hingga ekspresi wajah.

“Tidak ada kata terlambat untuk berkontribusi terhadap budaya. Ini luar biasa, peminatnya cukup besar dan harus terus berlanjut, jangan hanya momen tertentu,” kata salah satu peserta, Nunuk Dartini.

Ia menilai kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga ruang kebersamaan dan aktivitas positif bagi masyarakat. Bahkan, ia menyebut kegiatan menari turut memberikan manfaat kesehatan dan melatih konsentrasi.

“Kalau di awal sempat merasa sulit, tapi lama-lama terbangun semangat dan optimisme. Kita saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.

Nunuk juga mengakui tantangan yang dirasakan peserta usia lanjut, terutama dalam menyesuaikan gerakan tertentu yang membutuhkan kelenturan tubuh dan fokus tinggi. Namun hal itu tidak mengurangi semangat untuk terus belajar.

Kelas tari ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkelanjutan agar semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pelestarian budaya Jawa, khususnya Tari Klasik Gaya Surakarta di Salatiga.

Grace Stella, pengajar tari

BACA JUGA :

pilkades 2026
Pilkades Kabupaten Semarang Tahap Pertama Digelar 14 Desember 2026, 140 Desa Bersiap
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.
Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha
Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5.000 Persen, Industri Jadi Motor Pertumbuhan