Semarang – Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menyiapkan 227 pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah. Langkah ini menjadi strategi utama dalam menjaga stabilitas harga pangan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Program GPM merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi yang diinisiasi Bank Indonesia melalui penguatan sinergi dengan pemerintah daerah. Seluruh pemerintah kabupaten/kota telah mendaftarkan lokasi dan jadwal pelaksanaan, yang saat ini masih dalam tahap verifikasi, terutama terkait kesiapan distribusi, ketersediaan pasokan, dan ketepatan sasaran.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, menegaskan bahwa GPM menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.
“Menjelang Idulfitri, permintaan komoditas pangan cenderung meningkat. Melalui Gerakan Pangan Murah, kami memastikan intervensi dilakukan secara tepat waktu dan tepat sasaran agar harga tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga,” ujarnya.
Dalam sepekan terakhir, harga sejumlah komoditas strategis seperti cabai dan bawang merah mengalami kenaikan. Kondisi ini dipengaruhi oleh curah hujan tinggi yang berdampak pada kualitas hasil panen serta menghambat proses panen di tingkat petani. Meski demikian, secara umum ketersediaan pasokan di daerah penghasil masih relatif mencukupi.
Bank Indonesia menekankan bahwa pelaksanaan GPM akan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan dinamika harga di pasar. Intervensi akan difokuskan pada wilayah yang mengalami tekanan harga signifikan, sehingga dampaknya lebih optimal bagi masyarakat.
Selain GPM, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui operasi pasar dan pemantauan harga harian di seluruh wilayah. Upaya ini dilakukan untuk memastikan pasokan tetap terjaga dan potensi lonjakan harga dapat diantisipasi sejak dini.
“Sinergi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga, khususnya pada periode dengan tekanan permintaan tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri,” tambah Mohamad Noor Nugroho.
Dengan berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia berharap stabilitas harga pangan di Jawa Tengah tetap terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalani Ramadan dan Idulfitri dengan lebih tenang.